#ProyekMenulis : Letters of Happiness

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered! (www.thebaybali.com). 

Hadirmu, Nusa Dua

Sore itu aku sibuk membuka tutup tas hitamku, memeriksa apa semua yang dibutuhkan untuk penerbangan nanti sudah siap dan tak ada yang tertinggal.

Rabu lalu Tante Alisa menghubungiku, dia mengajaku berlibur di Bali. Segera ku tanggapi dengan semangat ajakannya. Dia selalu mendapat kabar tentangku dari Mamah. Mungkin Mamah khawatir dengan apa yang kulakukan akhir-akhir ini. Libur kuliah semester empat ini aku hanya berdiam diri, meringkuk di kamar. Beberapa hari kemudian aku pergi pagi dan pulang malam seorang diri. Aku sungguh bosan akhir-akhir ini. Semua temanku sedang sibuk dengan kegiatan pribadinya, sampai untuk ikut berlibur kali ini pun mereka menolaknya.

Beberapa menit kemudian aku berpamitan dengan Mamah dan Papah. Kulihat jam tangan digital ini menunjukan pukul 17.30, aku segera melangkah masuk ke dalam taksi, dan mobil segera meluncur meninggalkan pekarangan rumah.

Masih sesore ini tapi jalanan sudah lengang, sehingga taksi yang kutumpangi pun melaju tanpa hambatan. Kulihat-lihat tempat berliburku di Bali nanti, dan beberapa recommend tempat berlibur yang dikirimkan Tante Alisa melalui email.

Dua puluh menit kemudian aku sudah tiba di Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Pak Supir dengan cekatan langsung menurunkan koperku dari bagasi mobilnya, setelah senyuman ramahnya ia pergi meninggalkanku.

***

Setibanya di Bandara Internasional Ngurah Rai Bali, Azkia berjalan keluar bandara sambil menarik koper merahnya. Dari kejauhan terlinat Tante Alisa menggunakan kacamata hitam melambaikan tangannya.

Untuk malam ini, mereka langsung menuju ke The Bay Bali, Nusa Dua. Karena air muka Azkia yang terlihat sudah lelah. Di perjalanan Azkia memperhatikan jalanan Bali yang dipenuhi oleh turis, hingga mereka memasuki jalan tol, Tante Alisa menyarankan agar Azkia untuk tidur.

***

Keesokan harinya, Azkia harus melewati harinya sendirian lagi. Tante tiba-tiba ada tugas yang mengharuskan ia untuk pergi ke Jakarta, entah selama berapa hari. Bagaimana mungkin, di Bali pun ia harus berlibur benar-benar sendirian.

 Pagi itu setelah selesai sarapan, ia memutuskan untuk berjalan di pantai sambil menikmati pemandangan yang ada. Mungkin saja itu bisa memperbaiki moodnya, dan bisa saja ada bule juga yang sedang jalan sendirian dan bisa ia ajak ngobrol.

***

Ketika sedang asik menikmati berjalan tanpa alas kaki di atas putihnya pasir pantai. Ia menangkap sebuah alunan musik bali dan samar-samar terdengar suara yang sangat ia kenal.

“Fathaan?”

Ia langsung menoleh ke segala arah untuk mencari dari mana suara itu berasal. Namun yang ia lihat hanya hamparan air laut yang bening, pepohonan dan beberapa turis di dekat sumber musik itu, tak ia dapati seseorang yang ada dibenaknya.

“Ah, mungkin hanya orang lain.” Namun terlihat dari mimik mukanya ia masih mencari seseorang yang ia harapkan itu.

***

Fathaan, dia adalah teman Azkia saat dia SMP. Saat itu mereka sanggat dekat meski dalam jangka waktu yang tak begitu lama, dari tatapan mata mereka berdua sangat terlihat bahwa mereka saling suka. Hingga suatu hari, Fathaan menyatakan perasaannya pada Azkia, namun entah mengapa Azkia saat itu menolaknya. Sampai mereka lulus SMP dan meneruskan bersekolah di SMA yang berbeda.

Namun sampai saat ini perasaan Azkia tak pernah berubah, ia tetap menyukai Fathaan. Dan di Bali ini, tepatnya di Nusa Dua. Entah mengapa bayangan Fathaan selalu muncul di setiap tempat yang ia kunjungi.

Ketika makan siang, Azkia pergi ke Restoran Bebek Bengil. Suasana tradisional alam ini menjadi latar yang sanagt pas untuk menikmati makanan tradisional namun tetap berkelas bintang. Azkia lagi-lagi melihat bayangannya, karna ia tahu Fathaan suka sekali makanan berbahan dasar bebek.

Ketika ia berjalan di pantai menikmati sunset, lagi-lagi bayangan itu muncul. Pemandangan Sunset itu mengingatkannya pada pandangan mata Fathaan yang selalu dengan hangat menatapnya.

Malamnya ketika ia makan di De Opera sambil menikmati suasana pantai malam hari di tepi pantai. Suara ombak yang begitu merdu, lagi-lagi mengingatkannya pada Fathaan. Segala hal yang ia temukan di Nusa Dua ini dibayangi oleh seseorang sang sangat ia cintai. Segala keindahannya, segala detailnya, segala suasananya. Sampai-sampai ia berpikir, apa tempat ini nanti akan menjadi hal kedua yang tak bisa ia lupakan nantinya?

Malam sudah mulai larut, namun semakin malam Nusa Dua ini makin menampakan keindahan yang menghanyutkan. Azkia pulang ditemani sang bintang, ia berjalan pulang,  melewati tempat yang tadi padi ia dengar sayup suara Fathaan. Sebuah senyuman kecil tersimpul di mulutnya.

“Huhh.” Ia menghembuskan nafas panjang.

“Hei, bukankah aku ini terlalu berharap kepada seseorang yang telah dengan jahatnya aku putuskan harapannya.” Ia berbicara pada sang laut, namun sayangnya sang laut pun tak tahu harus berkomentar apa, yang ia dengar hanya suara ombak yang tiba-tiba begitu pelan.

***

Hari kedua. Rencanyanya hari ini Azkia akan pergi untuk diving. Mungkin keindahan terumbu karang bisa membuatnya sedikit melupakan sosok yang muncul di mimpinya semalam. Sebelumnya, Azkia sudah pernah diving dengan teman-temannya beberapa waktu lalu, jadi untuk diving kali ini dia hanya perlu melakukan hal yang sama seperti waktu itu.

Azkia berjalan pelan menuju mobil kepunyaan tantenya yang bisa ia gunakan selama berlibur di sini. Dilihatnya mobil sedan silver itu bersebelahan dengan sebuah sedan hitam. Tiba-tiba seorang pria berambut hitam dengan earphone di telinganya menyusul langkah Azkia. Sudah jauh di depannya, tiba-tiba buku berwarna putih kecoklatan jatuh dari tas sang pria yang tak tertutup dengan benar. Azkia segera mengambil buku yang ternyata adalah sebuah novel berjudul Treasure Island, karya Robert Louis Stevenson. Novel tentang bajak laut.

Pria tadi, sudah masuk ke dalam sedan hitam itu, segera ia hampiri mobil itu, dan mengetuk pelan jendela mobilnya. Ketika jendela mobilnya terbuka, ia tersentak melihat wajah pria itu, begitu ia kenal garis wajahnya.

“Azkia?” Ucap pria tak kalah kaget.

“Fathaan?” Balasnya, sambil melangkah mundur, melihat Fathaan yang membuka pintu mobilnya.

“Apa kabarmu?” Ucap Fathaan, dengan air muka bahagia.

“Baik. Ini buku lo?”

“Ah iya benar. Makasih Ki” Segera mengambil buku dari tangan Azkia. “Sendiri?”

“Iya. Kamu?”

“Sama dong. Mau kemana?

“Rencananya mau ke Tanjung Benoa, mau diving.”

“Oh, Tanjung Benoa, pemandangan bawah laut di sana memang bagus, peralatan menyelamnya pun sudah disediakan dengan lengkap, dan untuk pemula bisa langsung ditemani dengan guide untuk diving-nya.”

“Kamu tahu banget Thaan. Suka Diving di sana juga?”

“Yaa.. kadang-kadang sih, sekalian water sport juga.”

“Ohh, lo mau kemana?”

“Mau ke Pulau Penyu, ngambil foto pemandangan disana. Dan kayanya gue harus berangkat sekarang nih Ki. Duluan ya.”

“Ok, hati-hati Thaan.”

“Oh iya, email lo masih yang dulu?”

“Iya” Balas Azkia cepat diikuti anggukan kepalanya.

***

Perjalanan ke Tanjung Benoa pun, makin berwarna bagi Azkia karna pertemuan pagi tadi. Kehadiran Fathaan di Nusa Dua ini, membuat liburannya menjadi semakin hidup.

Setibanya di Tanjung Benoa, cuaca yang panas terik tak menjadi masalah ketika berada di dalam laut. Pemandangan terumbu karang dan ikan-ikan kecil, terlihat semakin indah.

Setelah Diving, Azkia melanjutkan untuk bermain water sport. Seperti parasailing, wake board, dan flying fish. Mungkin lain kali ia harus mencoba snorkeling dan seawalker juga.

Berlibur di Nusa Dua kali ini mungkin tak akan pernah ia lupakan. Meski hanya berlibur sendiria, pemanadangan keindahan alam Nusa Dua selalu menemaninya kapan pun dan kemana pun ia pergi, meski akan lebih indah jika ia punya teman untuk berbagi keindahan itu.

***

Setibanya di Pirates Bay, Azkia disambut dengan angin pantai dan lambaian pepohonan.  Dilihatnya sedan hitam yang ia kenal sudah terparkir rapih. Tadi ia mendapat email dari Fathaan untuk makan bersama disana.

Begitu memasuki tempat ini suasana ala bajak laut sangat memikat mata. Ditambah sebuah kapal kayu berukuran besar dengan layar berwarna coklat bergambar logo Pirates Bay. Untuk penggemar bajak laut seperti Fathaan, tak perlu jauh-jauh ke Karibia untuk memanjakan hatinya.

***

Debur ombak terdengar sama menenangkannya seperti suara Fathaan yang sedang menceritakan Pulau Penyu yang tadi ia kunjungi, sambil memperlihatkan beberapa foto penyu kecil berjalan di putihnya pasir pantai menuju lautan. Hebatnya penyu-penyu kecil itu pergi kelautan mencari induknya. Benar-benar kebahagian yang tak terkira, ketika akhirnya mereka dapat berjumpa dengan induknya dilautan nanti. Seperti menemukan alasan untuk apa melalui perjuangan panjang melintasi lautan masalah untuk bertemu seseorang yang memberi hidup kita sebuah arti.

Matahari perlahan tenggelam, Azkia dan Fathaan masih duduk di atas pasir menghadap lautan yang sekarang bertabur bintang, beberapa peselancar dan turis asing mulai keluar dari air dan berjalan menuju tenda-tenda dan api unggun.

“Tak kusangka bulan akan terlihat sangat indah dari sini.”

“Bulan?” Tanya Azkia kebingungan, karena yang ia lihat hanya taburan bintang di langit malam, tak ada bulan disana.

“Iya Azkia Selena. Selena artinya bulan bukan?” Ucap Fathaan, sambil mengarahkan kameranya ke wajah Azkia.

Muka Azkia merona merah. Ia tertawa kecil. Ia segera bangkit, dan berbalik badan.

“Ayo makan, aku sudah lapar.”

***

Cahaya kuning dari lampu dan obor menerangi malam. Dari kejauhan terlihat beberapa turis bercakap ria menikmati api unggun, dan beberapa lainnya berdiam di tenda-tenda dengan bantal empuk yang disediakan. Ada juga rumah pohon beratapkan jerami, tempat bersantai yang tak kalah indah.

Malam ini, kebahagiaan yang di rasakan pengunjung juga dapat Azkia rasakan, karena di sampingnya ada Fathaan yang dapat menemaninya berbagi kebahagiaa, ditambah dengan sajian menu makanan yang memanjakan lidah.

***

Keesokan harinya, Azkia dan Fathaan sarapan berdua di tepi pantai. Sungguh indah waktu yang mereka lewati bersama.

“Ki, nanti malem gimana kalau kita nonton theater ?”

“Boleh.”

“Jam 6 aku jemput ya.”

Setelah percakapan pagi itu berakhir, Fathaan pergi entah kemana. Katanya, ada hal penting yang harus dia urus.

Hari itu pun, aku menghabiskan waktu menikmati pemandangan pantai Nusa Dua dan kemudian pergi ke The Rest and Relax melakukan perawatan manicure dan pedicure yang ditangani langsung oleh seniman professional. Selain pelayanan yang sangat ramah, fasilitas dan suasana yang ada benar-benar dapat membuat nyaman.

***

Mobil sedan hitam memasuki komplek (Bali Tourism Development Corporation) BTDC Nusa Dua, dan berhenti di tempat parkir Bali Nusa Dua Theater.

“Pertunjukan theater dilakukan setiap hari Senin, Rabu, Jumat dan Sabtu yang dimulai pukul tujuh malam. Dan pertunjukan theater yang dipertunjukan merupakan perpaduan dari kegiatan tari tradisional Indonesia dengan tari modern kontemporer, seperti tarian kelas dunia dan atraksi akrobatik udara. Pertunjukan ini sangat unik dan menarik karena menceritakan keberagaman budaya di Nusantara, dari pulau Sumatra sampai Papua. Selain itu theater ini menunjukan kecantikan pakaian dan keindahan lantunan musik dari seluruh Indonesia. Di kemas dengan sangat cantik dengan penataan panggung yang sangat luar biasa.” Begitu tutur Fathaan sebelumnya ketika dalam perjalanan ke dalam theater.

Dan semua kata-kata yang diucapkan Fathaan tadi semuanya benar, ini adalah pertunjukan theater termegah yang pernah aku saksikan selama ini. Benar-benar dapat menghipnotis semua mata yang menontonnya.

Pertunjukan pun selesai, sembilan puluh menit berlalu begitu cepat. Pertunjukan ditutup dengan tepuk tangan para penonton.

***

Kehadiran Fathaan di tengah acara berliburku kali ini benar-benar membuatku berterima kasih. Dia dengan senang hati menemani hari-hariku berlibur di pulai dewata ini. Dan untuknya yang kurang lebih sudah tinggal di Bali selama dua tahun ini dapat menjadi guide yang cocok untukku, menggantikan tante Alisa. Dan untungnya dia tak keberatan dengan semua itu.

“Thaan. Makasih banget ya buat pertunjukan theaternya. Kalau ngga ketemu kamu di Bali, belum tentu aku bisa nonton theater sebagus itu. Makasih ya.”

“Sama-sama, Ki.” Balas Fathaan senang.

“Besok, atas rasa terimakasih gue, lo gue traktir makan gimana?”

“Boleh.”

“Di Restoran Gyu-Kyu gimana? Lo suka makanan Jepangkan?”

Fathaan tersenyum mendengar ucapan Azkia.

***

“Ki, Tante Alisa balik ke Bali kapan?”

“Katanya sih besok.”

“Oh, bagus deh.”

Percakapan itu terputus karena Tepanyaki yang mereka pesan sudah datang. Aromanya benar-benar membuat perut kesenangan.

“Ki..”

“Hem?” Balas Azkia yang sedang mengunyah makanannya.

“Gue titip salam ya buat Tante Alisa.”

“Besok lo mau pergi?”

“Iya, malem ini gue harus pergi ke Jakarta, dan pergi ke Pulau Seribu buat ngambil gambar buat proyek gue.” Fathaan menurunkan nada bicaranya, ia menyadari ada kesedihan di muka Azkia saat itu.

“Ohh.” Balas Azkia panjang sambil meneruskan makannya.

Nada percakapan mereka pun berubah menjadi kurang enak, mereka berdua terlihat saling menyembunyikan perasaan, tak mampu mengungkapkannya.

***

Sore itu, Azkia melepas kepergian Fathaan dari The Bay Bali, dilihatnya sedan hitam itu meluncur meniggalkannya sendirian.

Begitu jelas kesedihan di muka Azkia. Dia pun memutuskan untuk berdiam diri di pinggir pantai, seperti biasa melihat matahari yang perlahan tenggelam di laut. Tiba-tiba Azkia tersenyum dan mengambil handphonenya.

 

Fathaan.

Makasih sudah memberiku kesempatan yang sangat indah untuk bisa bersamamu lagi. Aku tahu kesempatan yang kedua seperti ini tak selalu datang pada semua orang. Dan aku merasa sangat beruntung karena mendapat kesempatan kedua itu. Terimakasih.

Dan maaf karena telah membuat perpisahan kali ini tidak membahagiakan untukmu. Kau pasti sudah tahu alasan kenapa aku bersedih. Aku sakit untuk menyimpan rindu ini untukmu, setiap hari dibayang-bayangi oleh sosokmu, tanpa pernah aku mampu untuk menghubungimu. Maafkan aku, aku tak bisa mengungkapkan dengan benar semua perasaan yang ku punya.

Tapi untuk kali ini tenang saja, meskipun hanya sedikit. Aku sudah mulai bisa mengatur dan mengungkapkan perasaanku ini. Dan semoga kau tak akan terganggu jika hari-harimu akan aku isi dengan pesan yang menanyakan “Bagaimana kabarmu?”.

Dan semoga ada kesempatan ketiga, keempat, kelima, dan selanjutnya untuk bisa bertemu denganmu lagi.

Send. Dikirimkannya email itu pada Fathaan.

Azkia pun merebahkan punggungnya di hamparan pasir putih, menghadapkan wajahnya pada taburan bintang yang seolah memeluknya.

***

Kebahagiaan adalah kebahagiaan, yang bisa kita dapat dalam kondisi apa saja dan dimana saja. Kebahagiaan tak perlu dicari, dia akan menemukanmu ketika kau sudah membuka matamu dan bersyukur atas segala hal yang telah engkau lakukan atau atas apa saja yang terjadi padamu. Dan ketika kau dapat membuka matamu, segala keindahan disekitarmu dapat memancarkan energinya untuk memelukmu, mendukungmu, dan berkata “Selamat engkau berhasil melangkah lebih jauh lagi.”

Seperti pada malam itu, Keindahan Nusa Dua benar-benar memelukku, dan membawaku pada mimpi-mimpi indah lainnya.

“Terimakasih Dewata”

TAMAT

View text
  • 1 week ago
View photo
  • 1 week ago
  • 46708
View photo
  • 1 week ago
View photo
  • 1 month ago
  • 5332
View photo
  • 1 month ago
  • 7280

Percayalah, aku pun tak pernah
menginginkan ini semua berakhir. Tapi ntah kenapa ini semua seperti sengaja tercipta untuk kita.

(via mbeeer)
View quote
  • 1 month ago
  • 72

Hujan. Bersama dengannya berkali-kali ku tumpahkan perasaan ini. Biarkan ia hanyut bersama air, ketempat yang seharusnya.

View quote
  • 1 month ago

Begitu sulit untuk tak perduli. Sekalipun dibelakangmu, sudah begitu teguh niatku. Namun ketika melihatmu, begitu sulit menyembunyikan rasa.

View quote
  • 1 month ago

Just because I am strong„ doesn’t mean I can’t break…

(via lutfiannisa)
View quote
  • 1 month ago
  • 97
View photo
  • 1 month ago
  • 399577

Jalan keluar : (Melupakan) Kamu

Pernah guruku berkata bahwa pelupa pun termasuk pada masalah kejiwaan ringan. Bahwa, ada sesuatu yang salah di otak kita karena sesuatu. Dan aku mengalami itu. Dia mengatakan itu terjadi bisa karena kita ingin melupakan suatu hal atau terlalu fokus pada satu hal. Dan, ia menyarankan untuk kita mengingat apa saja hal-hal yang kita lupa.

Aku pikir, mungkin itu karnamu. aku begitu sulit untuk mengingat nama. Baik itu nama orang, nama jalan, judul buku, judul film, atau apapun.

Dan aku pikir itu karnamu. Otakku terlalu fokus pada namamu. Atau untuk sekarang bisa jadi karna aku terlalu ingin melupakanmu.

Jadi sekarang jalan keluarnya aku tahu itu hanya kamu. Tapi aku tak tahu apa yang harus aku lakukan terhadapmu,

Karna sekarang kau sudah benar-benar jauh, tapi tetap begitu dekat dan selalu ada dalam otakku.

View text
  • 1 month ago
  • 1
x